Selasa, 07 April 2020

Senin, 06 April 2020

Pantai Sujono

Pantai Sujono

Pantai Sujono atau yang dikenal dengan sebutan pantai Perjuangan di Desa Lalang Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara yang selama ini menjadi tempat rekreasi objek wisata lokal kini  bergolak.

Soalnya sudah tahunan pengelolaan pantai tersebut menjadi rebutan antar kelompok masyarakat yang mengaku masing – masing yang berhak menjadi pengelola.

Sementara Pemerintah Kabupaten Batubara melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga telah berulang- ulang mendamaikan dua kelompok yang sama- sama mengaku pengelola yang sah, bahkan Disparpora  juga telah melakukan mediasi kepada pihak-pihak yang bersengketa.

Meski sempat tenang beberapa waktu, namun saat kini ada pihak yang mengklaim sebagai pengelola pantai yang sah.

Kelompok Masyarakat Sadar Wisata Koperasi Jasa Masyarakat Pantai Jono yang mengaku sebagai pengelola yang sah menggelar aksi damai, Minggu (06/01/2019) di depan portal pintu masuk Pantai Sujono melibatkan puluhan warga.

Mereka mengklaim bahwa pihaknya telah mendapat persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan.

Koorditator aksi Saiman saat menggelar aksi mengutarakan pihaknya telah memperoleh rekomendasi dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batubara tentang pengelolaan objek wisata pantai Sujono.

Tetapi Saiman menyesalkan, meski pihaknya telah mendapat persetujuan Kemen LHK dan rekomendasi dari Dis Parpora Batubara namun Dis Parpora Batubara tidak tegas karena  terkesan masih mengizinkan pengelola lama untuk menjual karcis tanpa porporasi dan stempel.

Melalui aksi damai tersebut Saiman meminta instansi terkait untuk secepatnya menyelesaikan permasalahan kepengelolaan pantai Jono untuk menjaga agar tidak terjadi yang tidak diinginkan.
Share:

Pantai Datuk

Pantai Datuk

Wisata alam hutan  mangrove atau sering diisebut Pantai Datuk Kabupaten Batubara baru saja berbenah dalam dua tahun terakhir. Areal seluas 3 haktare ini kini menjadi salah satu destinasi objek wisata pilihan masyarakat, sahabat dan tamu warga Batubara.

Untuk mencapai objek wisata hutan mangrove atau yang biasa dikenal pantai Datuk cukup tidaklah sulit. Ada tiga pintu masuk yang bisa dilalui, jika dari Kota Medan bisa masuk dari Simpang Kuala Tanjung, Simpang Empat Limapuluh dan Simpang Sei Bejangkar. Jika mengendarai bus atau mobil kurang lebih sejauh 20 km atau 30 menit perjalanan melintasi areal perkebunan dan hamparan sawah yang membentang luas.

Selain pemandangannya yang eksotik dengan hutan mangrove yang terjaga, masuk ke pantai Datuk tidaklah mahal. Untuk per orang hanya dikenai biaya Rp.15.000, ini sudah termasuk fasilitas toilet dan air bersih.

Setibanya melintas pintu gapura pantai Datuk, kita disambut sejumlah kuliner daerah dan makanan cepat saji. Beragam pilihan dapat dinikmati, mulai dari kuliner khas Batubara yang dikenal kelejatannya hingga nusantara dengan harga yang sepadan.

Selanjutnya kita memasuki areal kawasan wisata hutan mangrove. Sembari berjalan di bawah rindangnya hutan bakau, sejumlah monyet ekor panjang bergelantungan dan berlari berebut makanan yang sengaja diberikan para pengunjung ataupun mencari sisa makanan.

Memang bagi yang tak terbiasa, melihat satwa liar ini pastilah takut. Namun jangan heran jika di pantai Datuk, hewan-hewan ini cukup bersahabat, bahkan tak sengan-sengan mendekati pengunjung sekedar untuk mencari makanan.


Tak sedikit para pengunjung datang ke pantai ini bersama keluarga besar dengan berbekal makanan masakan yan dibawa dari rumah. Di bawah rindangnya dahan bakau, pengunjung menghabiskan waktu menikmati hidangan makanan sembari dihebus semilir angin pantai Timur yang membentang luas.

Selain keindanan dan kebersihannya yang terjaga, pantai Datuk cukup aman bagi arena rekreasi keluarga maupun bagi anak-anak di bawah umur. Selain bersih, tak sedikit anak-anak bermain layang-layang dengan terpaan angin pantai dan bermain kolam air tawar buatan. Bahkan, objek wisata hutan mangrove ini menjadi lokasi strategi bagi penggila selfie yang kemudian diupload ke media social.

Keunikan lainnya, para wisatan juga dapat menikmati air pasang pada jam-jam sore. Pemandangan sore hari begitu berbeda ketika air pasang, menghempas pantai. Dari lokasi ini pengunjung bisa melihat panjangnya reklamasi pantai Pelabuhan Kuala Tanjung yang terkenal terbesar di Pulau Sumatera.

Selain pantai Datuk, Kabupaten Batubara juga memiliki objek wisata lainnya seperti pantai Sujono, yang sedikit menjorok ke jalan lintas.
Share:

Pantai Sejarah


Pantai Sejarah


Situs Sejarah di Desa Perupuk, Pantai Sejarah diresmikan sebagai Kampung Jepang oleh Bupati Batu Bara Ir. H. Zahir dan dibuka untuk umum.

“Kita semua punya tanggungjawab untuk melestarikan cagar budaya dan cagar alam sebagai warisan sejarah untuk generasi mendatang, karena sejarah tidak akan terulang kembali,” kata Zahir.
Pelestarian sejarah katanya, juga amanat Undang-undang Nomor 11/2010 tentang cagar budaya, Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem, serta Peraturan Pemerintah Nomor 68/1998 tentang kawasan alam yang mempunyai ke khasan satwa, ekosistem yang perlu dilindungi.

Dahulu di Batu Bara juga ada 9 datuk yang berkuasa dan mampu mengurus pemerintahan secara otonom mandiri.

Jejak peninggalan barang kuno, nama desa serta situs dan jejak nama perkebunan menjadi bukti kuatnya kekuasaan datuk di Batu Bara terdahulu.

“Atas karunia tersebut kita perlu bersyukur dan perlu kita kenang dengan cara pelestarian, dan dalam waktu dekat akan kita buka musium di Batu Bara,” sebut Bupati.
Momentum HUT Kabupaten Batubara ke-13 tahun ini lanjut Bupati, pihaknya berusaha menggali peninggalan sejarah peradaban berupa peninggalan sejarah dan situs-situs yang menjadi cagar budaya dan cagar alam.

“Jika keseluruhan cagar budaya dan cagar alam ini sudah tertata dan terbangun secara baik, maka akan mendatangkan wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara,” kata Zahir.
Selain itu kata Zahir, tempat tersebut juga akan dijadikan tempat para ilmuan mengkaji dan meneliti warisan sejarah dan kekayaan ekosistem yang akhirnya membangun pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara sejarawan Batu Bara sekaligus Anggota TBUPP Dr. Phil. Ichwan Azhari mengatakan bahwa pasukan Jepang masuk ke Sumatera Utara lewat Pantai Sejarah pada bulan Maret 1942.
Pendaratan pasukan Jepang di pantai ini dilakukan secara besar-besaran bersama markas besar Divisi dan Korps Sandi (Fusuyama, 1994:346-347).

“Jepang seperti mengecoh Belanda yang dengan armadanya menjaga Pelabuhan Belawan dari penyusupan pasukan Jepang. Ternyata Jepang seperti menikam Belanda dari belakang dengan mendarat di kampung sunyi ini yang sama sekali tidak dijaga pasukan Belanda,” kata Ichwan.
Pantauan Prosumut, Zahir juga telah meresmikan cagar alam yang merupakan warisan dunia di Danau Laut Tador.

Karena didalamnya terdapat jenis hewan langka dan tanaman langka yang telah hidup ratusan tahun di Danau tersebut.

Dan Danau Laut Tador dijadikan lokasi cagar alam prioritas yang perlu mendapatkan perhatian khusus di Kabupaten Batubara.
Biaya untuk masuk ditempat ini adalah Rp.0,00 atau disebut Gratis
Share:

Minggu, 05 April 2020

Pantai Bunga

Pantai Bunga

Pantai Bunga, begitu namanya disebut oleh warga setempat maupun pengunjung yang datang. Pantai ini adalah salah satu dari beberapa destinasi wisata yang ada di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
Selain Pantai Datuk dan Pantai Sejarah, Pantai Bunga tempat Wisata paling nyaman dan mempesona, beigitu masyarakat menyebutnya. Entah apa muasalnya dinamai Pantai Bunga, warga setempat pun menggelengkan kepala tak tau. Nama itu sepertinya muncul begitu saja, sementara satu bunga pun tak ada terlihat di seputar pantai.

Namun, namanya itu membawa anugrah warga setempat. Setiap hari libur pantai ini tidak putus-putusnya di kunjungi oleh wisatawan lokal maupun yang datang dari luar Batubara. “Apa lagi hari hari besar, Pantai Bunga ini ramai sekali,” kata salah seorang warga setempat Azis.

Tarutama, usai upacara Hari Kemerdekaan, Pantai Bunga, bak magnet menarik pengunjung yang datang baik warga setempat maupun dari luar daerah, Jumat 17 Agustus 2018. Mengapa Pantai Bunga lebih diminati pengunjung maupun pelancong.

Menurut warga Batubara Amrin, Pantai Bunga lebih mudah dijangkau dengan kendaraan roda empat atau sepeda motor dari Kota Kisaran dan kota terdekat lainnya. Makanan dan minuman yang dijual oleh pedagang masih terjangkau. Fasilitas untuk pengunjung yang disediakan warga setempat, seperti tikar, pondok untuk berteduh di sewakan cukup murah, tidak sampai mengoyak isi kantong pengunjung.




                                 Pedagang di Pantai Bunga Batubara
 
Selain itu, kenyaman dan keamanan pengunjung bersama keluarga tidak perlu diragukan dan terjamin, karena setiap hari besar beberapa personel polisi tampak mengawasai para wisatawan yang sedang menikmati indahnya lautan saat air mulai pasang.



Bagi Amrin dan keluarganya, berkunjung ke Pantai Bunga bukan sekali ini saja. Pantai Bunga selalu menjadi tujuan wisata keluarga besarnya, karena kota Kisaran tempat kediamannya minim objek wisata alam.” Pantai Bunga yang dekat mudah dijangkau saat hari libur,” tukasnya.

Lain lagi dengan Anto dan keluarganya yang baru pertama kali berkunjung, tapi Pantai Bunga sudah membuatnya kurang berkesan. Pasalnya ketika mobilnya masuk, di pintu gerbang beberapa orang mengaku petugas parkir, menyodorkan karcis parkir mobil,Rp 5.000.- Ketika Anto memberi uang 50.000 dikembalikan oleh petugas yang tanpa seragam PNS, 15.000 ribu rupiah.

“Lain uang parkir pak, masuk per orang juga bayar Rp10.000,” jawab petugas yang tak memakai seragam dan tanpa papan informasi harga. “Kalau memang dana yang dipungut dari masyarakat untuk pengelolaan pantai dan masyarakat tak apalah, asal jangan cuma mengisi kantong-kantong oknum-oknum tetentu saja,” ujar Anto dalam hati.
Share:

Jumat, 13 Maret 2020

Profil

PANTAI

Kelompok 1
SI - 6F



Kurnia Sandi (17220189)
TTL = Lima Puluh, 10 Oktober 1996
Alamat = Lk. VI, Kel.Lima Puluh Kota, kec.Lima Puluh, Kab.Batu Bara



Adetya Chandra (17220176) 
TTL = P.Toba, 11 Maret 1998
Alamat = Kisaran, Sidomukti, jl.paitan, LK.III, no.83 




 Bayhaki Tarigan S (17220181)
TTL = Tinggi Raja, 18 Februari 2000
Alamat = Dusun VI, Bukit Harapan, Kec.Tinggi Raja, Kab. Asahan




Ramadayani (17220550)
TTL = Desa Baru, 16 Januari 1999
Alamat = Pulau Raja, Desa baru, Dusun 3, Kab.Asahan 





Marlina (17220192) 
TTL = Tanjung Balai, 12 Februari 1997
Alamat = Tanjung Balai, JL.Patimura, Lk III


Share:

Copyright © REVIEW PANTAI DI BATU BARA OLEH KELOMPOK 1 | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com